![]() |
| Sumber: Google |
Dua bom bunuh diri telah dilaporkan meledak pada hari Minggu
(27/1) di gereja katedral Katolik Roma di Pulau Jolo, Filipina selatan. Akibat
dari ledakan itu, 20 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Mirisnya,
hampir semua korban merupakan warga sipil.
Menurut keterangan otoritas setempat, ledakan pertama yang terjadi
pukul 8.45 waktu setempat di dalam Katedral 'Our Lady of Mount Carmel'.
Sementara itu, ledakan kedua menyusul tak lama kemudian di depan pintu gereja.
Dilansir dari BBC, kelompok ISIS sudah mengakui sebagai
dalang di balik tragedi itu. Dalam pernyataannya, serangan itu dilakukan oleh
'dua pejuang syahid' melawan 'kuil bersalib'.
Pulau Jolo sendiri sudah lama menjadi basis kelompok militan,
termasuk kelompok Abu Sayyaf. Beberapa sayap kelompoknya pun telah menyatakan
dirinya berkomplot dengan ISIS.
Sementara itu, Sekretaris Pertahanan Delfin Lorenzana
mengecam serangan itu dengan menyebutnya sebagai tindakan pengecut. Bawahan
Duterte ini juga mendesak warga setempat agar mau bekerja sama dengan
pemerintah untuk melawan segala bentuk terorisme.
"Kami akan mengerahkan semua upaya hukum untuk mengadili
pelaku di balik insiden ini," tegas Lorenzana.
Serangan bom itu terjadi tak lama setelah warga di wilayah
mayoritas Islam itu melakukan sebuah referendum. Hasil dari referendum itu
menyatakan mayoritas warga di Filipina Selatan setuju dibentuknya Wilayah
Otonomi Bangsamoro.
Namun, warga di Provinsi Sulu, atau tepatnya di Pulau Jolo,
tidak menyetujuinya. Hal inilah yang diduga menjadi penyebab ledakan bom Minggu
(27/1) kemarin.
Padahal, pemerintah sudah berharap banyak referendum itu bisa
menjadi solusi untuk mengakhiri pertempuran puluhan tahun antara separatis
Islam dan tentara Filipina.

Komentar
Posting Komentar